September 21, 2021

Bos Astra Agro Bicara Soal Moratorium, Emiten Sawit Terancam?

Jakarta, CNBC Indonesia РPemerintah resmi mengakhiri moratorium pembukaan lahan sawit baru pada Minggu, 19 September kemarin. Aturan ini sebelumnya dibuat pemerintah pada tahun 2018 lalu untuk memperbaiki tata kelola industri sawit di tanah air.

Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Santosa mengungkapkan, dampak kebijakan tersebut belum berimplikasi langsung terhadap rencana kerja perseroan. Selain itu, manajemen AALI juga belum berencana melakukan ekspansi lahan baru.

“Terkait berakhirnya moratorium, tidak akan berdampak terhadap rencana kerja AALI karena sejak tahun 2015, sesuai kebijakan keberlanjutan AALI kami berkomitmen utk tidak membuka lahan baru dalam pengembangan kebun AALI,” katanya saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (20/9/2021).

Santosa melanjutkan, ekspansi perluasan kebun baru akan dilakukan melalui proses merger maupun akuisisi secara selektif dan memenuhi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) yang diterbitkan Kementerian Pertanian.

“Ekspansi penambahan luas kebun hanya akan dilakukan melalui M&A secara selektif, yakni kebun-kebun yang memiliki kebijakan keberlanjutan yang sesuai dengan ISPO atau berpostensi untuk bisa disertifikasi secara ISPO,” ujarnya.

Direktur Astra International ini juga memproyeksikan, pada tahun ini kinerja keuangan AALI akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh membaiknya harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) di pasar global.

Selain itu, pemerintah juga menerbitkan kebijakan yang mengubah besaran atas pungutan ekspor sawit.

“Kalau melihat tren yang sekarang ada, mestinya di kuartal IV tidak akan terlalu jauh dari pencapaian kuartal III. Dengan demikian kinerja keuangan AALI secara setahun tentu akan di atas tahun lalu, baik top line maupun bottom line-nya,” tuturnya.

Sampai dengan periode semester pertama ini, emiten perkebunan milik Grup Astra ini membukukan laba bersih senilai Rp 649,34 miliar, meningkat sebesar 65,69% dari tahun lalu Rp 391,90 miliar.

Emiten bersandi AALI ini tercatat membukukan pendapatan bersih senilai Rp 10,83 triliun, naik 19,28% dari semester pertama 2020 senilai Rp 9,08 triliun.