October 2, 2021

Kebijakan Pro-Perempuan ANJ: Kesetaraan Gender dan Pemenuhan Hak Pekerja Perempuan

KOMPAS.com – PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) selalu berkomitmen melaksanakan praktik kesetaraan gender dengan memberikan kesempatan sama dalam pekerjaan, perkembangan, serta peningkatan karier, baik untuk pekerja perempuan maupun laki-laki. Menurut ANJ, keberagaman gender akan mengoptimalkan kinerja perusahaan, karena kapasitas dan potensi baik dari dua sisi gender akan diperoleh secara maksimal.

Sebagai perusahaan kelapa sawit yang merupakan male-dominated industry, ANJ sangat memperhatikan hak-hak pekerja perempuan sebagai kaum minoritas.

Selain itu, ANJ juga menerapkan lingkungan kerja yang heterogen dalam hal, usia, ras, etnis, serta pengalaman kerja.

Direktur Human Resources and Change Management ANJ Group Yoomeidinar mengatakan, saat ini perempuan harus diberi porsi yang besar untuk menggerakan ekonomi.

Sebab, lanjut dia, ada fakta yang menunjukkan bahwa banyak perempuan memiliki potensi besar, tapi belum memiliki kesempatan.

“Kami yakin dengan memberikan kesempatan serta pengembangan terstruktur, pekerja perempuan akan bisa mengembangkan kompetensi, sehingga menghasilkan kinerja dan karier yang baik,” kata perempuan yang akrab disapa Meidi itu dalam sesi wawancara bersama Kompas.com, Senin (27/9/2021).

Ia yakin bahwa perempuan yang berprestasi akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian visi dan misi perusahaan.

Selain itu, di ANJ, para pekerja juga dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat, ide-ide, dan perspektif mereka. Jika memang mereka memiliki pandangan baru dari kebiasaan yang berlaku, perusahaan tidak akan ragu untuk mengadopsinya.

Perusahaan juga telah membentuk komite gender di setiap areal perkebunan. Tujuannya adalah menjadi medium bagi pekerja perempuan agar bisa mengikuti berbagai program pemberdayaan perempuan.

Dengan adanya program-proram tersebut, ANJ berharap perempuan bisa termotivasi untuk menyumbangkan ide-ide brilian demi mendukung satu sama lain.

“Jika perempuan memiliki masalah dalam pekerjaan atau pengembangan kariernya, kami akan menunjuk pemimpin perempuan untuk berperan sebagai coach bagi pekerja perempuan itu,” ungkap Meidi.

Komitmen ANJ terhadap pengembangan dan pemberdayaan perempuan juga terlihat dari jajaran direksi ANJ. Saat ini, terdapat 13 direksi dengan lima di antaranya merupakan perempuan.

Fenomena itu membuktikan bahwa ANJ selalu menganalisa komposisi gender di setiap level pekerja dan mengupayakan kesetaraan gender terjadi di setiap lini.

Contoh lain bisa dilihat dalam program Management Trainee (MT). Melalui program ini, ANJ memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menjadi future leader yang mumpuni.

“Perempuan saat ini sudah lebih siap menghadapi tantangan. Untuk yang MT Teknologi Pangan (Tekpang) kemarin posisinya di Papua, itu kebanyakan perempuan. Mereka berjiwa petualang sekali dan berani langsung turun ke lapangan dan memberikan pembekalan kepada para mama di Papua,” cerita Meidi.

Meski demikian, Meidi menyatakan bahwa ANJ tidak memaksa setiap posisi harus diisi oleh perempuan. Perusahaan lebih memilih untuk mengupayakan kesetaraan secara perlahan dan terus-menerus.

“Kami selalu melakukan upaya terbaik, karena proses ini memang tidak bisa instan. Intinya tetap kembali ke asas meritokrasi, yang terbaik untuk posisi itu. Namun, tetap kami selalu mendorong dan memberi kesempatan bagi perempuan untuk berkontribusi,” terangnya.

Terkait hak-hak pekerja perempuan, ANJ berkomitmen untuk menciptakan tempat bekerja aman, nyaman, dan bebas dari pelecehan seksual. Hal ini dibarengi dengan penyediaan beragam fasilitas untuk menunjang aktivitas para perempuan.

Beberapa fasilitas yang diberikan pada dasarnya sesuai aturan normatif perusahaan, seperti pemberian cuti haid kepada perempuan, cuti melahirkan, serta penyediaan ruang bagi ibu menyusui.

Selain itu, perusahaan juga menyediakan tempat penitipan anak (TPA) dengan para pendamping. Di tempat ini, anak-anak dirawat, diajaga, diajak bermain, serta dibacakan buku dan dogeng.

“Dengan begini para ibu di kebun tidak perlu khawatir karena anak-anak mereka terjaga dan ada yang mengajak bermain selama mereka bekerja,” terang Meidi.

Tak cukup di situ saja, ANJ bahkan menyediakan pos layanan terpadu (posyandu) yang memberikan pembekalan kepada para ibu tentang pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS), edukasi makanan bergizi untuk pencegahan stunting pada anak, serta edukasi mengenai kesehatan perempuan.

“Ada juga dokter dan kegiatan menimbang balita. Ini sudah menjadi komitmen perusahaan karena anak-anak adalah generasi penerus dari karyawan-karyawan kami,” ujarnya.

Untuk menjaga kesehatan, Meidi mengatakan, ANJ menyediakan klinik di berbagai wilayah perkebunan yang dilengkapi dengan bidan dan paramedis yang siap memeriksa kondisi kesehatan para pekerja.

Adapun selama pandemi Covid-19, para pekerja perempuan di kebun diajarkan untuk membuat masker dan hand sanitizer sendiri.

Hal tersebut sangat berguna mengatasi kondisi kekurangan masker dan hand sanitizer yang terjadi pada masa awal pandemi.

Perlindungan dari kekerasan seksual

Lebih lanjut, Meidi mengatakan bahwa ANJ memiliki value yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh insan ANJ.

ANJ juga memiliki kode etik perusahaan yang dilanjuti dengan komitmen penandatanganan pakta integritas oleh seluruh karyawan. Perusahaan akan memberikan sanksi tegas bagi pelanggar value dan kode etik.

“Perusahaan selalu mengakui peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat, serta pentingnya kesehatan dan perlindungan perempuan saat bekerja,” tuturnya.

Untuk itu, ANJ membentuk komite gender dan perlindungan anak di setiap site atau basis operasi ANJ, baik di perkebunan maupun di korporasi.

Hal tersebut dilakukan untuk melindungi perempuan, menciptakan kesetaraan gender di tempat kerja, mencapai kesehatan reproduksi pekerja perempuan, serta memberikan dukungan kepada perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Meski demikian, Meidi menjelaskan, komite gender tidak hanya diperuntukkan untuk perempuan saja.

“Komite gender ini fokusnya banyak, ada yang untuk pelecehan seksual, pemberdayaan perempuan. Namun memang banyak yang fokus untuk perempuan karena mereka minoritas di sini,” terang Meidi.

Pemberdayaan perempuan di masyarakat

Tidak hanya memenuhi hak-hak pekerja perempuan di tempat kerja, ANJ juga aktif memberdayakan perempuan melalui sejumlah program kemasyarakatan.

Adapun program yang dilakukan fokus pada manfaat untuk perempuan, di antaranya peningkatan pelayanan kesehatan untuk diri sendiri dan keluarga, peningkatan pendidikan untuk anak-anak mereka, serta penyediaan keterampilan baru dan peluang ekonomi.

Presiden Direktur (Presdir) ANJ Istini Siddharta mengatakan, pihaknya juga menyediakan sekolah-sekolah di wilayah perkebunan yang menjadi basis operasi perusahaan. Penyediaan sekolah ini disesuaikan dengan umur perkebunan.

“Misalnya di Binanga, Sumatera Utara (Sumut), perusahaan menyediakan sekolah hingga tingkat SMP. Di Papua Barat dan Kalimantan Barat, dimulai dari PAUD. Sekolah-sekolah itu memang untuk karyawan kami,” terang Istini yang juga hadir dalam sesi wawancara, Senin.

Sementara itu, soal peningkatan keterampilan baru dan peluang ekonomi, salah satunya diwujudkan ANJ melalui “Warung Mama” dan “Kebun Sayur” untuk para perempuan di Papua Barat.

Warung Mama adalah inisiatif ANJ untuk memfasilitasi penjualan produk makanan berbahan dasar sagu untuk memberdayakan perempuan setempat (mama) dengan mengajarkan keterampilan bisnis kepada mereka.

Selain memberikan peluang ekonomi, Warung Mama juga berkontribusi dalam membantu meningkatkan kesehatan umum, mengajarkan pentingnya pemenuhan gizi kepada masyarakat setempat, serta membantu perusahaan mengurangi jejak karbon secara inovatif dari pengangkutan barang.

Adapun proyek Kebun Sayur dilaksanakan di Desa Puragi, Tawanggire, Benawa Satu, Sumano, Mangga Dua, dan Karekano dan berhasil mendatangkan penghasilan baru bagi para perempuan di wilayah itu.

“Di sana kebun sayur itu ada hasilnya. Misalkan satu orang menanam sayuran, waktu panen kangkung, bayam, atau kacang panjang setiap tiga bulan sekali, mereka bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 500.000. Itu sudah cukup besar bagi mereka,” ungkap Istini.

Meski begitu, ia mengaku, pemberdayaan perempuan tidak selalu mudah dilakukan. Pasalnya, setiap daerah memiliki kultur dan adat istiadat yang berbeda.

Ia mencontohkan Papua sebagai salah satu daerah basis operasi ANJ yang paling remote dan memiliki kultur budaya berbeda. Di Papua, perempuan pada umumnya tidak diperbolehkan berperan aktif dalam mengambil keputusan.

“Kadang dari kami memang ingin melibatkan mereka dalam mengambil keputusan. Tapi di sana itu kulturnya berbeda, perempuan harus punya wali laki-laki untuk memutuskan. Hal ini membuat kami tahu ada sesuatu yang harus diubah, tapi tetap harus menghormati adat-istiadat,” papar Istini.