Perkuat Budaya K3 Sektor Sawit, Kemnaker Dorong 100 Titik Sosialisasi Dan Pelatihan Gratis Bagi Serikat Pekerja Pada 2026
Dibuat Oleh JAPBUSI • 20 Mar 2026
JAPBUSI.ORG, JAKARTA - Komitmen memperkuat budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di sektor kelapa sawit terus digelorakan melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Hal tersebut disampaikan oleh Indra S.H., M.H., Staf Khusus Bidang Pengawasan K3 dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, dalam sambutannya pada acara refleksi tiga tahun Jaga Sawitan ( jaringan ketenagakerjaan sawit berkelanjutan ) yang digelar bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Jaringan Pengawas Buruh Sawit Indonesia (JAPBUSI), dihadiri Edi Martono Ketum GAPKI , Jumat 13/3/2026.
Kegiatan yang dikemas dalam Diskusi pemangku kepentingan K3 tersebut menegaskan bahwa keselamatan kerja harus menjadi bagian dari budaya industri sawit berkelanjutan, bukan sekadar kewajiban administratif.

Dalam paparannya, Indra menjelaskan bahwa sepanjang tahun sebelumnya telah dilaksanakan sekitar 63 kegiatan sosialisasi lintas daerah, meliputi wilayah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta sejumlah daerah di luar Pulau Jawa. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran K3 di kalangan pekerja, khususnya di lingkungan serikat pekerja dan buruh.
” Yang terpenting bukan kemewahan tempat kegiatan, tetapi bagaimana kesadaran tentang K3 bisa menjangkau lebih banyak pekerja. Acara bisa dilakukan di sekolah, gedung organisasi, atau ruang pertemuan sederhana. Yang utama adalah partisipasi dan komitmen bersama,” ujar Indra.
Untuk tahun 2026, pemerintah bersama para pemangku kepentingan menargetkan peningkatan cakupan hingga 100 titik sosialisasi K3 di berbagai wilayah Indonesia.
Fokus utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman pekerja dan organisasi serikat pekerja terhadap pentingnya keselamatan kerja sebagai bagian dari produktivitas industri.
Selain sosialisasi, program lanjutan juga akan mencakup pelatihan dasar K3 khusus bagi serikat pekerja.
Pelatihan tersebut dirancang berlangsung selama beberapa hari dan diberikan secara gratis, termasuk dukungan transportasi bagi peserta.
Menurut Indra, langkah ini penting mengingat masih banyak organisasi pekerja yang belum memiliki struktur atau sistem K3 yang memadai. Melalui peningkatan kompetensi dan kapasitas pekerja, diharapkan kesadaran K3 dapat tumbuh dari level pimpinan hingga ke tingkat lapangan.
” Keselamatan kerja harus dipandang sebagai investasi, bukan beban. Ketika K3 dijalankan dengan baik, produktivitas perusahaan meningkat dan kesejahteraan pekerja ikut terjaga,” tegasnya.
Indra juga mencontohkan bahwa di banyak industri global, keselamatan kerja ditempatkan sebagai prioritas utama bahkan di atas keuntungan bisnis. Kecelakaan kerja fatal dapat berdampak serius terhadap reputasi perusahaan hingga keberlangsungan operasional.
Karena itu, pemerintah terus mendorong penerapan sistem manajemen K3, termasuk penguatan kelembagaan seperti Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) serta implementasi Sistem Manajemen K3 (SMK3) di berbagai sektor industri.
Melalui kolaborasi dengan jaringan pekerja dan pelaku industri sawit, gerakan pembudayaan K3 diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun industri sawit yang berkelanjutan, produktif, dan berdaya saing global.
“Semangat kita adalah maju industrinya, sejahtera pekerjanya, dan kuat keselamatannya. Ini adalah kontribusi nyata kita untuk Indonesia yang lebih baik,” pungkas Indra. (RED/Handi)